Search This Blog

Friday, 28 January 2011

asiknya sastra cina

Apa yang terlintas di pikiran anak SMA kalo kita tanya tentang anak Sastra Cina UI? wah pasti kalo udah lulus mereka pada cas-cus ya ngomong bahasa cina, terus kalian mau masuk sastra cina kalo udah lulus SMA nanti? mungkin, boleh juga dicoba. Apa itu pikiran kita dulu sebelum masuk Sastra Cina? terus gimana perasaannya sekarang setelah masuk disini? waah tiap hari udah kayak mau ujian, apa lagi yang lagi bulan madu dengan bc 5-6, klasik 1-2 dan terjemahan, bikin seminggu gak cukup cuman ada tujuh hari. Yaap mungkin itu lah keadaan yang sebenarnya, masuk jebakan batman? ya kurang lebih lah.
Sering saya lewat depan perpus FIB dan liat sekumpulan mahasiswa berambut gondrong yang asik dengan kartu, gitar atau kerambolnya, gak bisa disalahin juga sih,pasti mereka bilang: “bebas dong buat hiburan,suka-suka gw”. Lalu apa anak cina pada ngiri dengan pemandangan ini? Sangat mungkin, tapi ingat lah teman-teman, ada harga yang harus dibayar dari setiap kesuksesan yang ingin kita dapatkan. Apa target kita kalo udah lulus dari sastra cina ui? Sebagian mungkin ada yang ingin langsung kerja, lanjut s2 atau bahkan naik pelaminan bagi mereka yang udah mantap. Lalu kamu masuk diantara yang mana? Jika yang pertama, maka hal yang harus dilakukan sekarang adalah belajar lebih keras. Begitu banyak senior saya yang setelah lulus justru bingung dengan kelanjutan ceritanya, ini karena sebagian besar dari mereka, emph kami lebih tepatnya, kesulitan berbicara dalam bahasa cina. Bagi yang beruntung dan punya modal lebih, mungkin bisa melanjutkan studi di luar negeri, nah gimana dengan yang punya kantong cekak kayak saya? 
Begitu selesai bc6 saya langsung membulatkan tekad untuk menjadi seorang peternak ayam, atau semacamnya lah. Ini didasari pada ketidakmampuan saya dalam menjawab pertanyaan kakak saya tercinta yang menanyakan arti berita yang dibacakan di metro xinwen, kepala saya bagai dicolek palu godam saat itu, hati terkewer-kewer putus asa. Ketika memindahkan channel tv, ada sebuah acara yang mengisahkan suksesnya jadi seorang peternak ikan lele, ehm patin atau apalah gitu saya lupa, saat itu juga saya bulatkan tekad untuk menjadi seperti mereka.
Cerita di atas mungkin juga dialami oleh teman-teman saya yang kini sedang atau akan memasuki masa-masa krusial di sastra cina. Sampai saat itu tiba, bakarlah semangat kalian sampai ke ubun-ubun, mengeluh tidak akan membuatnya menjadi mudah dan bahkan malah membuat hidup semakin sepet. Buatlah lingkungan berbahasa cina, setidaknya dalam geng masing-masing, seperti kata pepatah: mensana in corporesano, menang di sana, menang disini dan menang di sono. Jadilah seorang pemenang! Belajar di sastra cina itu sangat menyenangkan jika kita menikmatinya. Well, selamat belajar teman-teman!